Senin, 15 April 2013

LEBIH PANAS DARI NERAKA?



Semarang tampaknya cocok mendapat nominasi sebagai salah satu yang terpanas di negeri ini. Seperti siang itu, saat peluh yang mengalir deras bersanding mesra dengan rutukan tak sabar menanti “si hijau” menyala, matahari dengan senang hati menyapa setiap makhluk di kota ini. Heran, padahal pukul sebelas pun belum ada.

Hoahmmm, maka daripada kantuk yang bercampur dengan hawa panas –sungguh kolaborasi yang sangat-tidak-menyenangkan- menguasaiku, lebih baik kutebarkan dengan riang mata ini. Hmm..barangkali ada makhluk indah yang tiba-tiba melintas, haha.. :D

Tiba-tiba indra penglihatan dan berlanjut dengan otakku langsung terpaku pada satu hal. Tulisan “cetar” yang terpampang di baliho besar itu mengusik sisi religiku. Menggelitik lebih tepatnya.  Sebenarnya sederhana saja. Tulisan itu hanya terdiri dari satu kalimat, yang tersusun dari 3 kata, dan kurang dari 25 huruf. Barangkali karena warnanya yang merah menyala-kontras dengan warna dasarnya yang putih-atau karena font hurufnya yang unik, sehingga aku bisa begitu memperhatikannya.

“Hotter than well”, begitu saja bunyi tulisan itu. Simpel bukan? Rupanya baliho itu semacam iklan untuk suatu acara di salah satu klub dan tempat karaoke yang cukup punya nama di Semarang. Jelas maksud iklan ini adalah acara entah-apa-itu yang akan diadakan oleh si-yang-punya-gawe punya susunan acara yang super asyik yang dijamin bakal sangat “hot”.

“Hot” di sini tentu punya makna “panas” yang jelas berbeda dengan panasnya kompor. Dan jelas, seperti halnya tujuan iklan secara umum, tujuan baliho inipun tentu untuk mengundang sebanyak-banyaknya peminat yang tertarik dengan “kepanasan” yang ditawarkan. Apalagi dengan gambar sesosok sileut perempuan seksi di samping tulisan merah menyala itu. Hmm..siapa yang nggak tergiur coba?

Tapi kalau aku ditanya, maukah aku datang ke acara tersebut, dengan tegas akan kugelengkan kepalaku. Bukan,bukan karena aku sok suci. Tapi, begitu membaca tulisan itu logika dangkalku –yang mungkin teramat dangkal- langsung berkata ada yang kurang tepat. Kenapa kukatakan kurang tepat? Coba simak.

Aku adalah muslim. Dalam agama yang kuanut, ah tidak, rasanya dalam semua agama, ada konsep tentang surga dan neraka, walau mungkin dengan nama yang berbeda-beda. Bahwa surga itu indah dan neraka itu menakutkan kita sudah tahu. Bahwa surga itu damai dan neraka itu rusuh kita juga sudah tahu. Bahwa surga itu sejuk dan neraka itu panas kita juga tentunya sudah sangat sering mendengar. Setidaknya dari kata-kata para pendeta, kyai, biksu atau pemuka agama yang lain. Dan tentunya, dalam kitabku -yang kubaca setidaknya dua kali sehari- pun hal itu sudah terpapar dengan jelas. Jika setiap manusia ditanya: siapa yang ingin masuk surga? Aku yakin semuanya akan angkat tangan. Sebaliknya, jika ditanya : siapa yang ingin masuk neraka? Aku rasa tak akan ada tangan yang bergerak sama sekali.

Kenapa demikian? Karena sebagai makhluk beragama kita telah ditanamkan suatu konsep bahwa neraka dengan segala panas, api dan segenap penyiksaan yang ada di dalamnya adalah suatu tempat yang tidak ingin kita jadikan tujuan akhir hidup kita. Siapa pula yang mau hidup abadi dalam siksaan bukan?
Jadi, wajar bukan jika “Hotter than well” yang kubaca itu segera ditampik oleh logikaku. Jika neraka yang kelewat panas itu pun tak pernah ingin kusinggahi, lalu mengapa aku harus singggah pada suatu tempat yang katanya lebih “panas” dari neraka? Sementara panasnya Semarang saja sudah membuatku cukup tersiksa.

Semarang,  “Pikiran Dangkalku”, 2013

#Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak mana pun. Hanya dibuat berdasarkan inspirasi yang tiba-tiba muncul di tengah kemacetan belaka. Tulisan ini dibuat semata-mata hanya untuk mengingatkan diri saja, bahwa panas dunia tak akan ada apa-apanya dibanding panas neraka. Semoga Allah melindungiku dari segala panas tersebut. Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar