Semarang tampaknya cocok
mendapat nominasi sebagai salah satu yang terpanas di negeri ini. Seperti siang
itu, saat peluh yang mengalir deras bersanding mesra dengan rutukan tak sabar
menanti “si hijau” menyala, matahari dengan senang hati menyapa setiap makhluk
di kota ini. Heran, padahal pukul sebelas pun belum ada.
Hoahmmm, maka daripada
kantuk yang bercampur dengan hawa panas –sungguh kolaborasi yang
sangat-tidak-menyenangkan- menguasaiku, lebih baik kutebarkan dengan riang mata
ini. Hmm..barangkali ada makhluk indah yang tiba-tiba melintas, haha.. :D
Tiba-tiba indra
penglihatan dan berlanjut dengan otakku langsung terpaku pada satu hal. Tulisan
“cetar” yang terpampang di baliho besar itu mengusik sisi religiku. Menggelitik
lebih tepatnya. Sebenarnya sederhana
saja. Tulisan itu hanya terdiri dari satu kalimat, yang tersusun dari 3 kata,
dan kurang dari 25 huruf. Barangkali karena warnanya yang merah menyala-kontras
dengan warna dasarnya yang putih-atau karena font hurufnya yang unik, sehingga
aku bisa begitu memperhatikannya.
“Hotter than well”,
begitu saja bunyi tulisan itu. Simpel bukan? Rupanya baliho itu semacam iklan
untuk suatu acara di salah satu klub dan tempat karaoke yang cukup punya nama
di Semarang. Jelas maksud iklan ini adalah acara entah-apa-itu yang akan
diadakan oleh si-yang-punya-gawe punya susunan acara yang super asyik yang
dijamin bakal sangat “hot”.
“Hot” di sini tentu punya
makna “panas” yang jelas berbeda dengan panasnya kompor. Dan jelas, seperti
halnya tujuan iklan secara umum, tujuan baliho inipun tentu untuk mengundang
sebanyak-banyaknya peminat yang tertarik dengan “kepanasan” yang ditawarkan.
Apalagi dengan gambar sesosok sileut perempuan seksi di samping tulisan merah
menyala itu. Hmm..siapa yang nggak tergiur coba?
Tapi kalau aku ditanya,
maukah aku datang ke acara tersebut, dengan tegas akan kugelengkan kepalaku.
Bukan,bukan karena aku sok suci. Tapi, begitu membaca tulisan itu logika
dangkalku –yang mungkin teramat dangkal- langsung berkata ada yang kurang
tepat. Kenapa kukatakan kurang tepat? Coba simak.
Aku adalah muslim. Dalam
agama yang kuanut, ah tidak, rasanya dalam semua agama, ada konsep tentang
surga dan neraka, walau mungkin dengan nama yang berbeda-beda. Bahwa surga itu
indah dan neraka itu menakutkan kita sudah tahu. Bahwa surga itu damai dan
neraka itu rusuh kita juga sudah tahu. Bahwa surga itu sejuk dan neraka itu
panas kita juga tentunya sudah sangat sering mendengar. Setidaknya dari
kata-kata para pendeta, kyai, biksu atau pemuka agama yang lain. Dan tentunya,
dalam kitabku -yang kubaca setidaknya dua kali sehari- pun hal itu sudah
terpapar dengan jelas. Jika setiap manusia ditanya: siapa yang ingin masuk
surga? Aku yakin semuanya akan angkat tangan. Sebaliknya, jika ditanya : siapa
yang ingin masuk neraka? Aku rasa tak akan ada tangan yang bergerak sama
sekali.
Kenapa demikian? Karena
sebagai makhluk beragama kita telah ditanamkan suatu konsep bahwa neraka dengan
segala panas, api dan segenap penyiksaan yang ada di dalamnya adalah suatu
tempat yang tidak ingin kita jadikan tujuan akhir hidup kita. Siapa pula yang
mau hidup abadi dalam siksaan bukan?
Jadi, wajar bukan jika
“Hotter than well” yang kubaca itu segera ditampik oleh logikaku. Jika neraka
yang kelewat panas itu pun tak pernah ingin kusinggahi, lalu mengapa aku harus
singggah pada suatu tempat yang katanya lebih “panas” dari neraka? Sementara
panasnya Semarang saja sudah membuatku cukup tersiksa.
Semarang, “Pikiran Dangkalku”, 2013
#Tulisan ini tidak
dimaksudkan untuk menyinggung pihak mana pun. Hanya dibuat berdasarkan
inspirasi yang tiba-tiba muncul di tengah kemacetan belaka. Tulisan ini dibuat
semata-mata hanya untuk mengingatkan diri saja, bahwa panas dunia tak akan ada
apa-apanya dibanding panas neraka. Semoga Allah melindungiku dari segala panas
tersebut. Aamiin...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar