Tyro..
Dia datang menyapaku kurang lebih dua tahun yang lalu. Sejak saat itu dia
menemani setiap detikku. Menyita setiap waktu dan pikiranku dengan segala hal
tentang dia. Ya, Tyro. Hipertiroidisme nama lengkapnya.
Sebenarnya
bukan kali pertama aku merasakan keberadaannya. Ada yang aneh dengan tubuhku,
dan sebagai si empunya tentunya aku yang paling memahaminya. Tapi sebelumnya
tak pernah kuhiraukan itu. Anjuran dari tante dokter untuk cek kesehatan selalu
hanya mampir tak lebih dari 30 detik di telingaku. Hingga pada suatu penghujung
Maret 2 tahun yang lalu semua itu terungkap.
Hipertiroidisme,
suatu diagnosis yang cukup untuk menjawab segala pertanyaanku selama ini.
Setiap detak jantung yang tak beraturan, keringat dingin yang sering kurasakan,
tremor yang datang tanpa permisi, berat badan yang selalu di bawah normal,
rasanya klop dengan gejala umum dari si Tyro ini. Takut? Ya, jelas. Sakit ini
tak sesepele demam atau batuk pilek yang biasa kualami. Dia butuh penanganan
jangka panjang, dia butuh ketelatenan, dan dia punya resiko yang tak main-main.
Jantung ini punya resiko lebih besar untuk tiba-tiba berhenti berdetak. Nafas
ini punya potensi lebih besar untuk tiba-tiba tercekat.
Sejak
saat itu arah bahteraku berubah. Hidupku rasanya dihantui “teman terdekat” yang
tak sedikitpun melepasku. Mencekik, merampas tiap-tiap suimber energi yang
diolah susah payah oleh sistem metabolismeku. Jadilah aku yang sekarang ini.
Gadis kurus kering setinggi 160 cm dengan bobot tak lebih dari 45 kg. Belum
lagi dengan tonjolan aneh pada tiroidku yang semakin tak bisa ku tutupi lagi.
Allah
punya rencana. Selalu itu yang jadi penyemangat langkahku setiap waktu. Aku
memilih untuk pasrah dan menyerahkan semua ini padaNya. Bukannya tanpa usaha,
satu dua semester awal sudah kucoba untuk memulai mengobatinya. Puluhan obat
sudah kutenggak, berkali-kali jadwal kontrol sudah kujalani dengan tekun. Namun
rupanya alasan kesibukan dan biaya serta mental yang jadi jawaban akhirnya.
Klise memang, seperti halnya masalah yang dialami ribuan orang di negeri ini,
selalu uang dan mental yang jadi alasannya. Ah, aku terlalu tak tega melihat
bapak dan ibu yang tergopoh-gopoh berjuang untuk kesembuhanku. Aku juga terlalu
tak tega membebani pikiran mereka jika terjadi sesuatu yang lebih buruk karena
sakitku ini. Seperti yang pernah kubaca, operasi Tyro mempunyai resiko yang
cukup besar. Hingga 1 tahun silam kuputuskan untuk menghentikan semua itu.
Mencoba bersikap “semua baik-baik saja” dan berusaha menjalani hidupku senormal
mungkin, walau semua tak akan pernah sama lagi.
Jadi,
inilah aku sekarang. Mencoba berdiri di tengah tatap heran orang atas sakitku
ini. Mencoba menanggapi setiap pertanyaan “Kurus banget, sekarang?” atau “ Mbok
ya makan yang banyak, badan kok segitu terus!” cukup dengan satu senyum tipis
saja. Tak perlu terlalu banyak kata. Rasanya sakit ini tak perlu jadi bahan
tontonan, sumber ratapan, atau bahkan hujatan bukan? Tak perlu mereka tahu.
Biarkan mereka dengan segala pikirannya saja.
Kalau
ditanya siapa sih yang tak ingin hidup normal. Tak ada yang ingin diberi sakit
seperti ini. Namun dengan segala keterbatasan yang kumiliki, sepertinya untuk
saat ini cukup bersabar dan latihan kuat mental dulu yang ku usahakan. Semoga
kelak Allah memberikan jalan kesembuhan untukku tanpa harus merepotkan kedua
orangtuaku. Semoga Allah memberikan hati dan jiwa yang kuat di balik kelemahan
fisikku ini. Kucoba ambil hikmahnya saja. Mungkin jika tanpa penyakit ini aku
akan tersesat dalam hingar bingar tak bermakna di luar sana. Secara tak
langsung, Tyro mengajariku tentang hakikat kematian dan makna hidup yang
sebenarnya di semesta ini.
Semoga
Allah senantiasa memberi kekuatan dan kesabaran dalam setiap langkahku. Jangan
pernah Kau jadikan aku suka mempersalahkan apa yang telah Kau takdirkan
untukku, Ya Allah. Aku yakin atas segala yang terbaik dariMu...
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan
mengatakan “kami telah beriman” dan mereka tidak diuji?” (QS Al ‘Ankabut:2)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar