Senin, 18 November 2013

Antara Aku, Tyro, dan KuasaNya



Tyro.. Dia datang menyapaku kurang lebih dua tahun yang lalu. Sejak saat itu dia menemani setiap detikku. Menyita setiap waktu dan pikiranku dengan segala hal tentang dia. Ya, Tyro. Hipertiroidisme nama lengkapnya.
Sebenarnya bukan kali pertama aku merasakan keberadaannya. Ada yang aneh dengan tubuhku, dan sebagai si empunya tentunya aku yang paling memahaminya. Tapi sebelumnya tak pernah kuhiraukan itu. Anjuran dari tante dokter untuk cek kesehatan selalu hanya mampir tak lebih dari 30 detik di telingaku. Hingga pada suatu penghujung Maret 2 tahun yang lalu semua itu terungkap.
Hipertiroidisme, suatu diagnosis yang cukup untuk menjawab segala pertanyaanku selama ini. Setiap detak jantung yang tak beraturan, keringat dingin yang sering kurasakan, tremor yang datang tanpa permisi, berat badan yang selalu di bawah normal, rasanya klop dengan gejala umum dari si Tyro ini. Takut? Ya, jelas. Sakit ini tak sesepele demam atau batuk pilek yang biasa kualami. Dia butuh penanganan jangka panjang, dia butuh ketelatenan, dan dia punya resiko yang tak main-main. Jantung ini punya resiko lebih besar untuk tiba-tiba berhenti berdetak. Nafas ini punya potensi lebih besar untuk tiba-tiba tercekat.
Sejak saat itu arah bahteraku berubah. Hidupku rasanya dihantui “teman terdekat” yang tak sedikitpun melepasku. Mencekik, merampas tiap-tiap suimber energi yang diolah susah payah oleh sistem metabolismeku. Jadilah aku yang sekarang ini. Gadis kurus kering setinggi 160 cm dengan bobot tak lebih dari 45 kg. Belum lagi dengan tonjolan aneh pada tiroidku yang semakin tak bisa ku tutupi lagi.
Allah punya rencana. Selalu itu yang jadi penyemangat langkahku setiap waktu. Aku memilih untuk pasrah dan menyerahkan semua ini padaNya. Bukannya tanpa usaha, satu dua semester awal sudah kucoba untuk memulai mengobatinya. Puluhan obat sudah kutenggak, berkali-kali jadwal kontrol sudah kujalani dengan tekun. Namun rupanya alasan kesibukan dan biaya serta mental yang jadi jawaban akhirnya. Klise memang, seperti halnya masalah yang dialami ribuan orang di negeri ini, selalu uang dan mental yang jadi alasannya. Ah, aku terlalu tak tega melihat bapak dan ibu yang tergopoh-gopoh berjuang untuk kesembuhanku. Aku juga terlalu tak tega membebani pikiran mereka jika terjadi sesuatu yang lebih buruk karena sakitku ini. Seperti yang pernah kubaca, operasi Tyro mempunyai resiko yang cukup besar. Hingga 1 tahun silam kuputuskan untuk menghentikan semua itu. Mencoba bersikap “semua baik-baik saja” dan berusaha menjalani hidupku senormal mungkin, walau semua tak akan pernah sama lagi.
Jadi, inilah aku sekarang. Mencoba berdiri di tengah tatap heran orang atas sakitku ini. Mencoba menanggapi setiap pertanyaan “Kurus banget, sekarang?” atau “ Mbok ya makan yang banyak, badan kok segitu terus!” cukup dengan satu senyum tipis saja. Tak perlu terlalu banyak kata. Rasanya sakit ini tak perlu jadi bahan tontonan, sumber ratapan, atau bahkan hujatan bukan? Tak perlu mereka tahu. Biarkan mereka dengan segala pikirannya saja.
Kalau ditanya siapa sih yang tak ingin hidup normal. Tak ada yang ingin diberi sakit seperti ini. Namun dengan segala keterbatasan yang kumiliki, sepertinya untuk saat ini cukup bersabar dan latihan kuat mental dulu yang ku usahakan. Semoga kelak Allah memberikan jalan kesembuhan untukku tanpa harus merepotkan kedua orangtuaku. Semoga Allah memberikan hati dan jiwa yang kuat di balik kelemahan fisikku ini. Kucoba ambil hikmahnya saja. Mungkin jika tanpa penyakit ini aku akan tersesat dalam hingar bingar tak bermakna di luar sana. Secara tak langsung, Tyro mengajariku tentang hakikat kematian dan makna hidup yang sebenarnya di semesta ini.
Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan dan kesabaran dalam setiap langkahku. Jangan pernah Kau jadikan aku suka mempersalahkan apa yang telah Kau takdirkan untukku, Ya Allah. Aku yakin atas segala yang terbaik dariMu...

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan “kami telah beriman” dan mereka tidak diuji?” (QS Al ‘Ankabut:2)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar