Kamis, 10 Mei 2012

BICARA TENTANG HUJAN

Banyak orang yang suka hujan. Dan masing- masing mereka mempunyai alasan kenapa begitu menyukainya.
Ada yang bilang hujan itu damai.
Ada yang bilang hujan itu menyejukkan.
Ada yang bilang hujan itu indah dengan setiap bulir titik-titiknya.
Ada yang beralasan karena hujan mengingatkan mereka pada seseorang, hujan membuat mereka bersama seseorang, atau hujan menciptakan momen yang indah dengan seseorang.
Ada juga yang suka hujan karena hujan menemani mereka menangis, menyamarkan kesedihan mereka dan menyembunyikan setiap duka yang ada dengan tetes-tetesnya.
Ya, masing- masing orang punya alasan sendiri, termasuk mungkin alasan untuk “membencinya”.


Bagiku, satu kata, hujan itu AJAIB.
Bagaimana tidak, sekian juta tetes- tetes lembut air bisa terjatuh dari atas langit sana.
Aku menyukai hujan. Entah sejak kapan. Mungkin sejak aku menyadari betapa ajaibnya dia. Mungkin juga sejak aku takjub melihat tirai lembut gerimis yang membelai tubuhku. Atau mungkin sejak aku tak lagi memandangnya sebagi suatu “musibah”.
Ya, dulu aku tidak suka hujan. Benci? Bukan, aku tidak membencinya, aku sama sekali tak membenci karunia Allah yang satu ini. Hanya saja aku sering merasa hujan itu merepotkan. Jalan penuh dengan genangan, baju yang basah dan kotor karena kena lumpur, belum lagi jika aku harus terjebak dan menunggu lama gara- gara hujan,ihhh!!
Tapi setelah aku pikir, marah atau tidak marah toh hujan tetap akan ada. Sebal atau tidak sebal toh dia juga akan berakhir. Jadi, setelah itu kuputuskan, ketimbang aku marah, sebal dan menghabiskan waktu dan tenagaku untuk merutuki hujan, lebih baik aku ikut mengalir. Let it flow, membiarkan diriku untuk ikut larut bersama hujan.
Sejak saat itu jika hujan turun kupastikan walau hanya sedikit ujung jariku untuk menyapanya, ikut menikmati suatu anugerah dari Allah seperti seluruh makhluk di bumi ini. Menengadah, memandangi asal setiap tetes hujan yang ada, dan tersenyum pada langit, pada suatu kekuasaan di atas sana, untuk sebuah kesempatan yang masih diberikan guna merasakan kesejukan ini.
Jika hujan begitu derasnya, maka aku hanya akan menatap dari dalam rumah. Memandangi genangan yang tercipta karena titik-titik air itu dan berharap bisa segera keluar untuk menikmati aroma kesejukkannya.
Bagiku, esensi hujan kadang lebih dari sekedar tetes-tetes air. Hujan jatuh dari langit, lewat sebentar di bumi, dan hilang lagi terserap tanah. Kalaupun tersisa, dia hanya berupa genangan, yang toh tetap akan sirna, entah karena lama- lama terserap tanah, atau kering oleh sang mentari. Seperti itu pula hidup, setiap kisah di dalamnya bagai tetes- tetes hujan itu. Seburuk apapun kisah yang lalu, dia hanya akan lewat, kemudian akan berlalu, seperti halnya hujan yang terkalahkan oleh tanah atau matahari. Seburuk apapun kisah, dia tak akan mungkin berhenti, sama tak mungkinnya seperti hujan yang melayang terhenti di udara tanpa pernah mencapai tanah. Kisah itu hanya mungkin akan terflash back lagi, seperti halnya hujan yang selalu datang lagi, tapi juga harus pergi lagi.
Hujan juga bagaikan sebuah mesin restart bagiku. Setiap tetesnya akan membersihkan kotoran yang ada, membuat bersih, menyegarkan dan merefresh kembali di tengah kepenatan. Dan jangan lupa, walau tak selalu ada, tapi tak kan ada pelangi tanpa hujan.
Karena itu aku suka hujan. Walau hujan kadang agak merepotkan, tapi selalu menjadi hal yang menakjubkan untuk menunggu sambil menikmatinya. Sehabis hujan, pasti akan tercium aroma khas tanah dan rerumputan yang menyegarkan, tetes- tetes air yang mengalir dengan damai di kelopak- kelopak mawar, genangan- genangan air tak beraturan, langit biru berlukiskan sisa mendung, dan jika aku beruntung barangkali aku akan menjumpai pelangi. Ya, selalu ada hal- hal yang menakjubkan sehabis hujan. Dan untuk menjumpai itu semua harus ada hujan. Mungkin karena itulah aku mulai belajar untuk menyukai hujan.

2 komentar: