Banyak orang yang suka hujan. Dan
masing- masing mereka mempunyai alasan kenapa begitu menyukainya.
Ada yang bilang hujan itu damai.
Ada yang bilang hujan itu
menyejukkan.
Ada yang bilang hujan itu indah
dengan setiap bulir titik-titiknya.
Ada yang beralasan karena hujan
mengingatkan mereka pada seseorang, hujan membuat mereka bersama seseorang,
atau hujan menciptakan momen yang indah dengan seseorang.
Ada juga yang suka hujan karena
hujan menemani mereka menangis, menyamarkan kesedihan mereka dan menyembunyikan
setiap duka yang ada dengan tetes-tetesnya.
Ya, masing- masing orang punya
alasan sendiri, termasuk mungkin alasan untuk “membencinya”.
Bagiku, satu kata, hujan itu
AJAIB.
Bagaimana tidak, sekian juta
tetes- tetes lembut air bisa terjatuh dari atas langit sana.
Aku menyukai hujan. Entah sejak
kapan. Mungkin sejak aku menyadari betapa ajaibnya dia. Mungkin juga sejak aku
takjub melihat tirai lembut gerimis yang membelai tubuhku. Atau mungkin sejak
aku tak lagi memandangnya sebagi suatu “musibah”.
Ya, dulu aku tidak suka hujan. Benci?
Bukan, aku tidak membencinya, aku sama sekali tak membenci karunia Allah yang
satu ini. Hanya saja aku sering merasa hujan itu merepotkan. Jalan penuh dengan
genangan, baju yang basah dan kotor karena kena lumpur, belum lagi jika aku
harus terjebak dan menunggu lama gara- gara hujan,ihhh!!
Tapi setelah aku pikir, marah atau
tidak marah toh hujan tetap akan ada. Sebal atau tidak sebal toh dia juga akan
berakhir. Jadi, setelah itu kuputuskan, ketimbang aku marah, sebal dan
menghabiskan waktu dan tenagaku untuk merutuki hujan, lebih baik aku ikut
mengalir. Let it flow, membiarkan
diriku untuk ikut larut bersama hujan.
Sejak saat itu jika hujan turun
kupastikan walau hanya sedikit ujung jariku untuk menyapanya, ikut menikmati
suatu anugerah dari Allah seperti seluruh makhluk di bumi ini. Menengadah,
memandangi asal setiap tetes hujan yang ada, dan tersenyum pada langit, pada
suatu kekuasaan di atas sana, untuk sebuah kesempatan yang masih diberikan guna
merasakan kesejukan ini.
Jika hujan begitu derasnya, maka
aku hanya akan menatap dari dalam rumah. Memandangi genangan yang tercipta
karena titik-titik air itu dan berharap bisa segera keluar untuk menikmati
aroma kesejukkannya.
Bagiku, esensi hujan kadang lebih
dari sekedar tetes-tetes air. Hujan jatuh dari langit, lewat sebentar di bumi,
dan hilang lagi terserap tanah. Kalaupun tersisa, dia hanya berupa genangan,
yang toh tetap akan sirna, entah karena lama- lama terserap tanah, atau kering
oleh sang mentari. Seperti itu pula hidup, setiap kisah di dalamnya bagai
tetes- tetes hujan itu. Seburuk apapun kisah yang lalu, dia hanya akan lewat,
kemudian akan berlalu, seperti halnya hujan yang terkalahkan oleh tanah atau
matahari. Seburuk apapun kisah, dia tak akan mungkin berhenti, sama tak
mungkinnya seperti hujan yang melayang terhenti di udara tanpa pernah mencapai
tanah. Kisah itu hanya mungkin akan terflash
back lagi, seperti halnya hujan yang selalu datang lagi, tapi juga harus
pergi lagi.
Hujan juga bagaikan sebuah mesin restart bagiku. Setiap tetesnya akan
membersihkan kotoran yang ada, membuat bersih, menyegarkan dan merefresh kembali di tengah kepenatan. Dan
jangan lupa, walau tak selalu ada, tapi tak kan ada pelangi tanpa hujan.
Karena itu aku suka hujan. Walau
hujan kadang agak merepotkan, tapi selalu menjadi hal yang menakjubkan untuk
menunggu sambil menikmatinya. Sehabis hujan, pasti akan tercium aroma khas
tanah dan rerumputan yang menyegarkan, tetes- tetes air yang mengalir dengan
damai di kelopak- kelopak mawar, genangan- genangan air tak beraturan, langit
biru berlukiskan sisa mendung, dan jika aku beruntung barangkali aku akan
menjumpai pelangi. Ya, selalu ada hal- hal yang menakjubkan sehabis hujan. Dan
untuk menjumpai itu semua harus ada hujan. Mungkin karena itulah aku mulai
belajar untuk menyukai hujan.

Enak kalau hujan. Rasanya damai. Sejuk..
BalasHapusYups... hujan memang menenangkan.. ^^
BalasHapus