Kau?
Ah, lagi-lagi kau.
Kenapa tak jua kau
singkirkan sejenak wajahmu dari hadapku.
Atau mungkin benar ini
salahku yang terlanjur menemukanmu.
Kau memang umpama jelaga,
bukan kau yang telah menghanguskannya, tapi kau yang tertinggal dan berbayang sepanjang
masa.
Kau memang bukan batu
meteor, yang menjelma jadi bintang jatuh dan menubruk hancur amygdala dalam
sistem limbik otakku.
Kau juga bukan petir,
yang menggelegar, menggetarkan sekaligus menciutkan hatiku.
Kau HANYA sebuah batu
kecil yang menghalangi jalanku, hanya sebuah tepukan kecil di pundak yang mau
tak mau buatku menoleh.
Tapi, lagi-lagi semua “HANYA”
itu tetap mengusikku.
Oke, setidaknya kau
berhasil untuk membuatku sadar bahwa ada kau disana.
Dan, lagi-lagi harus
selalu kuingatkan diriku bahwa kau adalah jelaga.
Jelaga yang pekat, yang
hanya hitam dan kelam saja, terlalu abstrak, terlalu tak terbaca.
Maka jelaga, tak bisakah
kau buat sedikit saja goresan indah untukku?
Setidaknya agar tak hanya
dalam mimpi kuliat dan kujamah arti dirimu.
Sedikit goresan indah
saja, karena ku tahu tak kan mungkin seindah pelangi.
Dan jika tak bisa, maka
sudahlah,
Enyah saja kau,musnah,
ikut bersama api yang membuatmu, yang telah lama hilang oleh deras hujan.
Enyah dan Musnah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar