Jumat, 13 Juli 2012

DALAM JERAT SEGORES JELAGA

Kau?
Ah, lagi-lagi kau.
Kenapa tak jua kau singkirkan sejenak wajahmu dari hadapku.
Atau mungkin benar ini salahku yang terlanjur menemukanmu.
Kau memang umpama jelaga, bukan kau yang telah menghanguskannya, tapi kau yang tertinggal dan berbayang sepanjang masa.
Kau memang bukan batu meteor, yang menjelma jadi bintang jatuh dan menubruk hancur amygdala dalam sistem limbik otakku.
Kau juga bukan petir, yang menggelegar, menggetarkan sekaligus menciutkan hatiku.
Kau HANYA sebuah batu kecil yang menghalangi jalanku, hanya sebuah tepukan kecil di pundak yang mau tak mau buatku menoleh.
Tapi, lagi-lagi semua “HANYA” itu tetap mengusikku.
Oke, setidaknya kau berhasil untuk membuatku sadar bahwa ada kau disana.
Dan, lagi-lagi harus selalu kuingatkan diriku bahwa kau adalah jelaga.
Jelaga yang pekat, yang hanya hitam dan kelam saja, terlalu abstrak, terlalu tak terbaca.
Maka jelaga, tak bisakah kau buat sedikit saja goresan indah untukku?
Setidaknya agar tak hanya dalam mimpi kuliat dan kujamah arti dirimu.
Sedikit goresan indah saja, karena ku tahu tak kan mungkin seindah pelangi.



Dan jika tak bisa, maka sudahlah,
Enyah saja kau,musnah, ikut bersama api yang membuatmu, yang telah lama hilang oleh deras hujan.
Enyah dan Musnah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar