Kamis, 07 Maret 2013

CERITA (LAIN) DARI JOGJA



Jogjakarta.

Ah, satu kota itu. Selama ini selalu penuh dengan memori bahagia. Hang out bareng teman, sekedar main pasir di pantai, jalan-jalan nggak jelas di Malioboro, atau sekilas menengok bukit bintang. Sebelumnya yang aku tahu Jogja selalu punya cerita indah.



Tapi, sebagaimana roda berputar, di mana nggak semua bagian selalu di atas dan nggak selalu ada di bawah, serupa itu pula kisah tentang hidup. Dan kini, tanpa pernah tersirat sedikitpun sebelumnya aku berkesempatan untuk melihat sisi lain Jogja bagi hidupku.



Nggak akan pernah lupa dan nggak pernah nyangka! Kalau selama ini aku pergi ke Jogja dengan sukacita, dengan mobil carteran bareng teman-teman, atau minimal sepeda motor bersama, kali ini aku ke Jogja dengan kendaraan istimewa, aka: AMBULANCE.



Hmm... Sebelumnya aku selalu bertanya, gerangan apa yang menyebabkan si putih itu meraung-raung manguasai jalanan? Segenting apakah urusan di dalamya? Kini aku tahu. Rasa sakit yang dialami ayah cukup bagiku untuk menjawabnya.



Tiga hari aku terdampar di Jogja, di salah satu bangsal rumah sakit kenamaan di sana. Menunggu dalam cemas akan nasib yang terkasih. Menyaksikan betapa di sana hidup terasa sangat berartinya.



Depan bangsal ayah adalah ruang ICU. Setiap hari aku menyaksikan wajah-wajah tanpa daya di sana. Wajah-wajah terpuruk yang seolah nggak punya sinaran hidup. Mungkin karena separuh hidupnya sedang terbaring tak berdaya. Entah itu anak, suami, istri, ayah, ibu, kakek, nenek, teman, pacar, atau seseorang yang berharga lainnya.



Di sana tak ada lagi gengsi untuk sebuah airmata. Tak peduli dia preman, biarawan, ustadzah, pejabat, atau bajingan, tak ada lagi yang membedakan. Setiap hari kulihat air mata yang tumpah, entah karena keputus asaan, atau sebagai kesungguhan atas permohonan bagi Tuhan. Yah, aku tahu rasanya. Mungkin sama denganku yang terpuruk, tersedu sedan, usai bicara dengan Tuhan dari satu sudut mushola di senja itu.



Dari sana aku belajar. Belajar tentang ketulusan sebuah kasih sayang dan hakikat kehidupan. Tuhan teramat sayang dengan hamba-hambaNya. Hingga memberi mereka kesempatan terlahir di dunia. Hidup, sakit, dan kemudian mati untuk mengenal cinta kasih abadi.



Hmmm... Seumpama ini film “49 days”, apakah airmata-airmata itu akan menjadi kristal kesucian yang melambangkan ketulusan hati dalam menyayangi? Entahlah. Yang jelas, sekali lagi, hidup ternyata terlalu sayang jika disia-siakan dengan kemudharatan. Karena saat kita begitu dekat melihat kematian, kita menjadi sadar kita ini bukan siapa-siapa. Kita hanya seonggok daging yang dititipi nyawa oleh Tuhan, untuk menjadi seseorang yang bermanfaat, atau sekedar daging yang bisa berjalan-jalan dan bernama.



Sedikit cerita lain dari Jogja, membuatku menghela nafas panjang, Bersyukur atas kesempatan yang masih ada hingga detik ini. Bersyukur masih diberi waktu untuk nafas dan detak jantung ini. Untuk berguna bagi sesamaku, untuk membahagiakan sekitarku, dan menyayangiku yang terkasih lebih, lebih, lebih, lebih, dan lebih banyak lagi, selagi kesempatan itu masih ada.



-Februari 2013-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar