Jogjakarta.
Ah, satu kota itu. Selama ini selalu penuh dengan memori
bahagia. Hang out bareng teman, sekedar main pasir di pantai, jalan-jalan nggak
jelas di Malioboro, atau sekilas menengok bukit bintang. Sebelumnya yang aku
tahu Jogja selalu punya cerita indah.
Tapi, sebagaimana roda berputar, di mana nggak semua
bagian selalu di atas dan nggak selalu ada di bawah, serupa itu pula kisah
tentang hidup. Dan kini, tanpa pernah tersirat sedikitpun sebelumnya aku
berkesempatan untuk melihat sisi lain Jogja bagi hidupku.
Nggak akan pernah lupa dan nggak pernah nyangka! Kalau
selama ini aku pergi ke Jogja dengan sukacita, dengan mobil carteran bareng
teman-teman, atau minimal sepeda motor bersama, kali ini aku ke Jogja dengan
kendaraan istimewa, aka: AMBULANCE.
Hmm... Sebelumnya aku selalu bertanya, gerangan apa yang
menyebabkan si putih itu meraung-raung manguasai jalanan? Segenting apakah
urusan di dalamya? Kini aku tahu. Rasa sakit yang dialami ayah cukup bagiku
untuk menjawabnya.
Tiga hari aku terdampar di Jogja, di salah satu bangsal
rumah sakit kenamaan di sana. Menunggu dalam cemas akan nasib yang terkasih.
Menyaksikan betapa di sana hidup terasa sangat berartinya.
Depan bangsal ayah adalah ruang ICU. Setiap hari aku
menyaksikan wajah-wajah tanpa daya di sana. Wajah-wajah terpuruk yang seolah
nggak punya sinaran hidup. Mungkin karena separuh hidupnya sedang terbaring tak
berdaya. Entah itu anak, suami, istri, ayah, ibu, kakek, nenek, teman, pacar,
atau seseorang yang berharga lainnya.
Di sana tak ada lagi gengsi untuk sebuah airmata. Tak
peduli dia preman, biarawan, ustadzah, pejabat, atau bajingan, tak ada lagi
yang membedakan. Setiap hari kulihat air mata yang tumpah, entah karena keputus
asaan, atau sebagai kesungguhan atas permohonan bagi Tuhan. Yah, aku tahu
rasanya. Mungkin sama denganku yang terpuruk, tersedu sedan, usai bicara dengan
Tuhan dari satu sudut mushola di senja itu.
Dari sana aku belajar. Belajar tentang ketulusan sebuah
kasih sayang dan hakikat kehidupan. Tuhan teramat sayang dengan hamba-hambaNya.
Hingga memberi mereka kesempatan terlahir di dunia. Hidup, sakit, dan kemudian
mati untuk mengenal cinta kasih abadi.
Hmmm... Seumpama ini film “49 days”, apakah
airmata-airmata itu akan menjadi kristal kesucian yang melambangkan ketulusan
hati dalam menyayangi? Entahlah. Yang jelas, sekali lagi, hidup ternyata
terlalu sayang jika disia-siakan dengan kemudharatan. Karena saat kita begitu
dekat melihat kematian, kita menjadi sadar kita ini bukan siapa-siapa. Kita
hanya seonggok daging yang dititipi nyawa oleh Tuhan, untuk menjadi seseorang
yang bermanfaat, atau sekedar daging yang bisa berjalan-jalan dan bernama.
Sedikit cerita lain dari Jogja, membuatku menghela nafas
panjang, Bersyukur atas kesempatan yang masih ada hingga detik ini. Bersyukur
masih diberi waktu untuk nafas dan detak jantung ini. Untuk berguna bagi
sesamaku, untuk membahagiakan sekitarku, dan menyayangiku yang terkasih lebih,
lebih, lebih, lebih, dan lebih banyak lagi, selagi kesempatan itu masih ada.
-Februari 2013-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar