You are the apple of my
eyes...
Apple of my eyes,yeah..
Setelah dengan begonya dan dengan otak Pithecanthropus
pentium ¼ ini menerjemahkannya sebagai “apel di mataku”, dan setelah dengan sok
bijaksananya –bersama seorang teman (sebut saja namanya Bunga)- memutuskan
bahwa judul itu nggak nyambung dengan filmnya, sebuah pencerahan datang.
Apple of my eyes =
kesayangan = jantung hati.
Yups, misteri pun
terpecahkan. Hipotesis awal pun ditolak mentah-mentah!
Setiap orang pasti punya “apple of the eyes”. Punya seseorang yang teramat
berharga, atau pernah sangat berharga di hidupnya. Tak terkecuali aku.
Yah, walau kuakui bahwa
aku adalah tipikal orang yang gampang menemukan sasaran, gampang berpindah
hati, gemar “berkelana”, tapi hanya beberapa dari mereka yang menjadi “Apple of
my eyes”.
Namanya Dyo, sebut saja begitu, tentu bukan nama sebenarnya. Ibarat warna,
maka dia adalah cat minyak warna merah yang tanpa sengaja tertumpah di warna
putih biruku. Ya, dia “tertumpah”, mengering, dan membekas selamanya di antara
luasnya warna putih yang biasa kulalui.
Aku tak pernah tahu sejak kapan dia menjadi spesial. Mungkin sejak aku
merasa benci pada sesosok cowok preman yang menjadi biang keributan di hari
pertama tahun kedua itu. Atau mungkin sejak aku sadar bahwa aku menyukai wajah
teramat bahagia di setiap tawa lepasnya. Bisa jadi sejak aku mulai bersimpati
pada setiap kisah yang dituturkannya. Atau ketika dia mengajakku masuk ke
dunianya yang luar biasa fluktuatif dan tak pernah membosankan itu. Entahlah.
Dan klise saja, seperti halnya kisah cinta anak remaja 14 tahun yang sering
kutonton, semua berjalan dengan polos, lepas, dan dengan perasaan seolah itu
akan bertahan hingga akhir masa. Tawa, sedikit tangis, mimpi-mimpi yang tak
terkendali, persaingan, cemburu, marah, saling benci, saling rindu, saling
gengsi, dan banyak lagi. Ah,konyol!
Tapi, sekali lagi, proses menuju kedewasaan adalah hal yang kadang menjadi
teramat kejam. Apalagi ketika logika menjadi hal yang lebih kita pilih
ketimbang perasaan. Jalan hidup yang tak lagi sama membuat masa putih biru itu
harus terhenti. Stop. Tanpa suatu kejelasan arah. Terkatung-katung, terombang-ambing,
dan terhempas oleh kisah putih abu-abu. Dan walau sekuat tenaga ku coba untuk
tetap menggenggamnya, toh pada akhirnya aku juga harus melepasnya.
Tentu saja tak semudah itu dia menghilang. Maka seperti halnya hujan, dia
akan datang, menyiratkan awan kelabu -yang dulunya putih, dan amat kusuka- yang
entah kenapa begitu kutakuti. Oh, mungkin karena aku yang terlalu pengecut,
terlalu takut kalau-kalau ada badai yang tiba-tiba menyertainya. Selalu begitu:
hilang, datang, dan pergi lagi sesuka yang dia mau. Tampaknya dia lupa bahwa di
dalam sini ada suatu keping hati yang masih begitu mudah diombang-ambingkan
olehnya.
Setaun, dua tahun, tiga tahun hingga akhirnya tak terasa tujuh tahun
berlalu. Kini sekeping hati itu sudah lebih tegar, sudah lebih tahu bahwa
selain abu-abu masih ada hitam yang lebih menakutkan. Sekeping hati itu sudah
belajar untuk menjadi lebih kuat, karena jika tidak maka hitam akan
mengalahkannya.
Aku selalu percaya bahwa aku mempunyai hubungan “agak mistis dan misterius”
dengan angka 7 dan segala kelipatannya. Jika pada 14 tahun aku menemukannya
untuk memulai sebuah kisah yang luar biasa, maka di usia 21 ini aku juga
menunggu akan ada hal apa untuk sebuah kisahku. Hingga akhirnya sebuah
kenyataan datang: He is married now!
Dulu aku selalu berpikir bahwa jika kamu sangat-sangat menyukai seseorang,
untuk benar-benar mendoakan dia bahagia menikah dengan orang lain adalah
selamanya hal yg tidak mungkin.
Ternyata aku salah!
Ternyata ketika kamu benar-benar menyukai seseorang dan ada seseorang yang mengasihinya,
mencintainya, maka kamu akan benar-benar dari hati yang paling dalam mendoakan
dia bahagia selamanya.
Aku pernah dengar, tanda jika kita sudah bisa berdamai dengan masa lalu
adalah ketika kita menoleh dan menatapnya dengan senyum tanpa beban. Dan kini
kurasakan itu. Aku tentu tidak akan lupa bangku pojok kelas yang selalu kita
tempati kala ingin sekedar bercerita. Aku sudah bisa tersenyum jika ingat saat
sepayung berdua. Bahkan aku bisa tergelak jika ingat bagaimana kami selalu
janjian saat itu: di belakang kelasnya saat istirahat pertama dengan diiringi
tatap-tatap curiga para teman yang penuh tanda tanya. Aku tak pernah lupa
setiap kata-katanya, setiap lagu yang dia tujukan untukku, setiap
khayalan-khayalan gila yang dia tuturkan padaku, setiap tatap haru dari mata
polosnya. Aku tak akan pernah lupa. Dan aku sudah bisa tersenyum untuk
mengenangnya. Ya, kenangan seindah dan seistimewa itu terlalu sayang jika harus
dikenang dengan tangis.
Yah, walau mungkin pada akhirnya aku dan dia tak ditakdirkan untuk
bersama...
Sampai sekarang aku masih tak bisa percaya bagaimana aku dulu pernah begitu
menyukainya. Pernah bisa sebegitu menyayanginya. Hingga kadang aku takut karena
sampai sekarang aku belum pernah lagi menyayangi “apple of my eyes” yang lain
seperti aku dulu menyayanginya.
Mungkin suatu saat nanti akan kutemukan Dyo yang lain. Ah, betapa aku
merindukan perasaan tingling itu.
Menantikan “apple of my eyes” yang benar-benar akan menemaniku.
And You, Yes, You Dyo..
You’re the apple of my
eyes.
Selamat menjalani hidup
baru, masa remajaku.. ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar