Mereka menyebut itu
“turning point”. Sebagian yang lain menyebutnya sebagai “titik awal”. Tapi aku
lebih suka menyebutnya sebagai “titik pandang”. Ya, memandang secara lebih jeli
hidup ini. Mencoba memandang dari suatu sudut berbeda dalam menyikapi segala
hal.
Kau tentu tahu rumah kaca
bukan? Sebuah rumah bertutup berpuluh-puluh kaca yang menimbulkan ilusi akan
diri kita di segala sudut. Sebuah tempat yang memungkinkan diri kita
terpantulkan dari depan-belakang-kanan-kiri. Sebuah gambaran seperti apakah seharusnya
kita memandang suatu hal, dengan teliti, titis dan mempertimbangkan segala
kemungkinan.
Aku sudah terlalu lama
hidup dengan berkacamata kuda. Hidup terjebak dalam pengkotak-kotakan yang
terlanjur memasyarakatkan antara “baik” dan “buruk”. Dulu, bagiku jika “tak
baik” berarti “buruk”,atau sebaliknya. Mutlak. Tak pernah sekalipun terpikir
apakah ada alasan di balik setiap kata itu. Lalu rupanya Tuhan yang terlalu
baik kepadaku menunjukkan kuasaNya. Dia menempatkanku pada suatu persimpangan
yang membuatku menemukan suatu kotak pandora berisi kekuatan untuk membuka
pemahamanku.
Lalu bertemulah aku
dengan orang-orang hebat itu. Sosok-sosok yang memberikan padaku pemahaman lain
tentang hakikat kehidupan. Membuatku tersadar, hei betapa luasnya dunia ini!
Ternyata di luar sana banyak hal hebat dan menarik yang bisa kutemukan. Dari
mereka aku belajar tentang arti kebijaksanaan, kepedulian, keteguhan prinsip,
cinta, kesetiakawanan, dan hal lain dari sudut yang berbeda. Hingga 3 bulan
yang singkat itu kurasa cukup membuatku “melek”, cukup membuatku tertohok dan
membuatku bertekad menjadi lebih baik lagi. Enthlah, padahal sederhana saja
bukan? Hanya dari pertemuan tak sengaja dari tiupan takdir yang mempertemukan
kami di sini. Mungkin itulah salah satu kuasa Tuhan, bahwa jika Dia berkehendak
jadi maka jadilah. Lewat jalan apapun itu. So, here I am! Dalam suatu jalan
yang Insya Allah telah kupilih dengan lebih mantap. Dalam satu tujuan hidup
yang lebih terarah. Semoga.
Special thanks to:
Tante “Nuni”, untuk setiap gambaran dan cerita tentang dunia luar sana yang “amazing”,
untuk setiap kuliah tentang konsep baik dan buruk, aku suka sekali teorimu
tentang keseimbangan bahwa tiap orang itu adalah dua sisi: baik dan buruk,
hanya sisi manakah yang kita “kebetulan” tahu dari orang tersebutlah yang
sering memicikkan dan mengurung penilaian kita. Selalu jadi “big tante ceria”
yang aku kenal ya, Tante. Aku sayang Tante, tak peduli apa pendapat orang
tentang kamu.
Ummi “Rully”, untuk setiap kajian
pagi,siang,sore yang tak ada hentinya. Terimakasih untuk waktu bergalau
bersama. Rasanya senang bisa berbagi cerita denganmu. Bisa sedikit mengintip
dunia damaimu yang selama ini rasanya untouchable.
Aku ingin masuk ke sana, Umi. Ingin merasakan damainya berada di antara
orang-orang hebat sepertimu. Doakan suatu saat bisa ya, Umi. Setidaknya agar
aku bisa menjadi sedikit lebih hebat, sepertimu. You are one of my inspiration!
Salut untuk kebebasanmu di tengah tempat yang bagi sebagian yang lain akan
terasa seperti penjara.
Dedek “Agan”, untuk kesempatan mengenal lagi arti kepolosan. Aku kagum dengan sikapmu
menyikapi setiap tingkah orang disekitarmu. Benar-benar lurus, bersih, tak ada
prasangka buruk yang membuat hati busuk. Suka sekali “slow mode on” mu itu,
Gan. Berharap Agan akan selalu lurus, bersih, apa adanya seperti yang aku
kenal.
Dan akhirnya aku tahu
alasan aku di takdirkan di sini: untuk bertemu Charlie’s Angels hebat seperti
kalian dan belajar lebih dari kalian. Terimakasih untuk segalanya. Senang
melewatkan sekali lagi masa putih biru dengan orang-orang hebat seperti kalian.
Sayang kalian.... ^^
#Juni 2013,
mengenang PPL menakjubkan
di kota harapan setaun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar