Tak berarti orang yang baik itu lantas hatinya
mutlak seputih salju. Selembut dan sehalus kapas. Semerbak sewangi kasturi. Atau
berkilau terang umpama kristal tersinari mentari. Lantas kita memberinya nilai
100 dan memberikan standing applause
terheboh.
Pun bukan berarti orang yang buruk lantas hatinya
gelap. Pekat umpama arang. Kotor dan menjijikkan laksana comberan yang untuk
mengalir pun sudah enggan. Atau berbau bacin busuk umpama bangkai tikus di
ujung jalan. Kemudian dengan tanpa ragu nilai 0 kita tuliskan, lengkap dengan
warna merah dan cibiran menghinakan.
Bukan, bukan demikian. Karena urusan hati adalah
logika yang paling tak logis. Hati tak semudah urusan matematika. Tak seilmiah
fisika. Tapi juga tak semembingungkan filsafat. Hati terlalu mustahil untuk
diukur dengan skala matematika. Sama mustahilnya dengan menggenggam kabut atau
mengeringkan laut. Apalagi untuk dilihat, diraba dan diterawang, umpama
mengecek keaslian selembar kertas merah bergambar Soekarno-Hatta.
Sederhana saja, hati itu cuma serupa kotak-kotak
kecil beraturan. Ibarat papan catur, dengan beberapa warna putih dan hitam pada
bagian lainnya. Mengapa harus demikian? Agar lakon hidup dapat terus
terlaksana. Bukankah tak mungkin bermain catur tanpa hitam putih yang
menentukan langkah kita? Bukankah tak mungkin permainan berjalan pada sebuah
papan yang monoton saja warnanya? Karena hakikat kita sebenarnya memang tak
lebih dari bidak-bidak yang digerakkan oleh Yang Maha Kuasa. Mutlak, mau tak
mau harus melalui hitam putih yang ada. Hitam butuh putih, pun sebaliknya.
Lalu, jika demikian maka peran kita hanyalah
bagaimana mengatur proporsi hitam dan putih itu. Sisi mana yang akan kita
kekang dan mana yang bisa kita umbar. Maka, ibarat hidup adalah pisau dengan
dua mata sisi : hitam-putih, baik-buruk; kita bebas memilih sisi mana yang akan
kita asah. Tentunya tetap dengan pertimbangan sisi yang kita unggulkan itu
tidak akan justru menikam diri kita sendiri.
Pada akhirnya setiap diri kita akan sampai pada
sebuah kesimpulan, bahwa sebaik-baik manusia tentu punya sisi buruk juga.
Secara otomatis juga menghantarkan kita pada pemahaman bahwa seburuk-buruk
manusia juga tetap mempunyai sisi baik. Manusiawi. Memberi penilaian atau judgement bahwa satu manusia baik dan
yang lain buruk itu hanya sebuah pemikiran dangkal yang kadang tak beralasan,
bahkan sering hanya berdasarkan pada ego saja. Hei, kita bukan hakim Maha Adil
yang bertahta di atas sana. Bukan pemegang palu yang berhak memvonis hidup terpidana.
Biarlah urusan benar dan salah, baik dan buruk, menjadi urusan Yang Berada Di
Atas Sana. Perkara mereka mau jadi apa itu terserah si empunya hati saja. Sama
sekali bukan urusan dan tak ada hubungannya dengan kita. Tak ada untungnya sama
sekali bagi kita. Urusan kita untuk menata hati masing-masing tampaknya sudah
terlalu sulit dan jauh lebih penting daripada mengurusi orang lain. Cerdaslah
menyikapi hidup, Kawan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar