Jumat, 28 Juni 2013

URUSAN KITA DENGAN HATI




Tak berarti orang yang baik itu lantas hatinya mutlak seputih salju. Selembut dan sehalus kapas. Semerbak sewangi kasturi. Atau berkilau terang umpama kristal tersinari mentari. Lantas kita memberinya nilai 100 dan memberikan standing applause terheboh.

Pun bukan berarti orang yang buruk lantas hatinya gelap. Pekat umpama arang. Kotor dan menjijikkan laksana comberan yang untuk mengalir pun sudah enggan. Atau berbau bacin busuk umpama bangkai tikus di ujung jalan. Kemudian dengan tanpa ragu nilai 0 kita tuliskan, lengkap dengan warna merah dan cibiran menghinakan.

Bukan, bukan demikian. Karena urusan hati adalah logika yang paling tak logis. Hati tak semudah urusan matematika. Tak seilmiah fisika. Tapi juga tak semembingungkan filsafat. Hati terlalu mustahil untuk diukur dengan skala matematika. Sama mustahilnya dengan menggenggam kabut atau mengeringkan laut. Apalagi untuk dilihat, diraba dan diterawang, umpama mengecek keaslian selembar kertas merah bergambar Soekarno-Hatta.

Sederhana saja, hati itu cuma serupa kotak-kotak kecil beraturan. Ibarat papan catur, dengan beberapa warna putih dan hitam pada bagian lainnya. Mengapa harus demikian? Agar lakon hidup dapat terus terlaksana. Bukankah tak mungkin bermain catur tanpa hitam putih yang menentukan langkah kita? Bukankah tak mungkin permainan berjalan pada sebuah papan yang monoton saja warnanya? Karena hakikat kita sebenarnya memang tak lebih dari bidak-bidak yang digerakkan oleh Yang Maha Kuasa. Mutlak, mau tak mau harus melalui hitam putih yang ada. Hitam butuh putih, pun sebaliknya.

Lalu, jika demikian maka peran kita hanyalah bagaimana mengatur proporsi hitam dan putih itu. Sisi mana yang akan kita kekang dan mana yang bisa kita umbar. Maka, ibarat hidup adalah pisau dengan dua mata sisi : hitam-putih, baik-buruk; kita bebas memilih sisi mana yang akan kita asah. Tentunya tetap dengan pertimbangan sisi yang kita unggulkan itu tidak akan justru menikam diri kita sendiri.

Pada akhirnya setiap diri kita akan sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa sebaik-baik manusia tentu punya sisi buruk juga. Secara otomatis juga menghantarkan kita pada pemahaman bahwa seburuk-buruk manusia juga tetap mempunyai sisi baik. Manusiawi. Memberi penilaian atau judgement bahwa satu manusia baik dan yang lain buruk itu hanya sebuah pemikiran dangkal yang kadang tak beralasan, bahkan sering hanya berdasarkan pada ego saja. Hei, kita bukan hakim Maha Adil yang bertahta di atas sana. Bukan pemegang palu yang berhak memvonis hidup terpidana. Biarlah urusan benar dan salah, baik dan buruk, menjadi urusan Yang Berada Di Atas Sana. Perkara mereka mau jadi apa itu terserah si empunya hati saja. Sama sekali bukan urusan dan tak ada hubungannya dengan kita. Tak ada untungnya sama sekali bagi kita. Urusan kita untuk menata hati masing-masing tampaknya sudah terlalu sulit dan jauh lebih penting daripada mengurusi orang lain. Cerdaslah menyikapi hidup, Kawan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar