Pagelaran besar
tahun ini datang lagi.
Ya, ini
Desember, ini penghujung tahun, dan ini hujan!!
Ah, Desember
selalu bisa menghadirkan memori yang indah tentang hujan. Desember dengan
alunan gemericik air dan nyanyian anginnya selalu bisa memeluk diri dengan
dingin yang menentramkan.
Aku suka
Desember, sebagaimana aku mencintai hujan. Desember dan hujan ibarat sebuah
lagu dengan intronya, ibarat cerita dengan prolognya, atau ibarat sate dengan
sambal kacangnya. Saling melengkapi, tak akan sempurna tanpa satu sama lain.
Desember selalu
bisa memuaskan aku “bicara” dengan hujan. Membelai lembut gerimisnya, atau
sekedar bergumul dengan genangan air sisa-sisa deras hujannya. Senja di bulan
Desember juga selalu tampak lebih indah. Sapuan-sapuan awan di kanvas yang maha
luas berpadu mesra dengan jingga yang tersisa menjelang gelap tiba. Pemandangan
hebat yang tak tentu hadir setiap harinya.
Satu lagi
tentang Desember. Bagiku dia adalah sebuah alarm peringatan. Cetakan prasasti
tentang perjalanan setahun yang kulalui. Ketika Desember tiba, seolah itu saat
untuk membuka lagi catatan setahun terakhir ini. Memandangi setiap pencapaian
yang telah teraih, dan menghela napas sejenak, “Ah, ternyata semua itu bisa
kujalani”, sambil mengumpulkan napas untuk berlari lagi di Januari nanti.
Desember seperti sebuah “rest area” untuk sejenak melepas penat.
Jadi,
Desemberku tak sekedar hujan sehari-hari. Tak sekedar keluhan kesal akhir tahun
pertanda waktu yang terlalu tergesa untuk berlari.
Aku selalu suka
Desember, Desember dengan segala ceritanya, Desember dengan aroma hujannya, dan
Desember dengan sejuta pengharapan baru untuk langkah selanjutnya.
Selamat datang,
Desemberku....
“....
karena aku, selalu suka sehabis hujan di bulan Desember.”
(Efek Rumah Kaca-Desember-)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar