Jumat, 06 Desember 2013

DESEMBERKU . . .





Pagelaran besar tahun ini datang lagi.
Ya, ini Desember, ini penghujung tahun, dan ini hujan!!

Ah, Desember selalu bisa menghadirkan memori yang indah tentang hujan. Desember dengan alunan gemericik air dan nyanyian anginnya selalu bisa memeluk diri dengan dingin yang menentramkan.

Aku suka Desember, sebagaimana aku mencintai hujan. Desember dan hujan ibarat sebuah lagu dengan intronya, ibarat cerita dengan prolognya, atau ibarat sate dengan sambal kacangnya. Saling melengkapi, tak akan sempurna tanpa satu sama lain.

Desember selalu bisa memuaskan aku “bicara” dengan hujan. Membelai lembut gerimisnya, atau sekedar bergumul dengan genangan air sisa-sisa deras hujannya. Senja di bulan Desember juga selalu tampak lebih indah. Sapuan-sapuan awan di kanvas yang maha luas berpadu mesra dengan jingga yang tersisa menjelang gelap tiba. Pemandangan hebat yang tak tentu hadir setiap harinya.

Satu lagi tentang Desember. Bagiku dia adalah sebuah alarm peringatan. Cetakan prasasti tentang perjalanan setahun yang kulalui. Ketika Desember tiba, seolah itu saat untuk membuka lagi catatan setahun terakhir ini. Memandangi setiap pencapaian yang telah teraih, dan menghela napas sejenak, “Ah, ternyata semua itu bisa kujalani”, sambil mengumpulkan napas untuk berlari lagi di Januari nanti. Desember seperti sebuah “rest area” untuk sejenak melepas penat.

Jadi, Desemberku tak sekedar hujan sehari-hari. Tak sekedar keluhan kesal akhir tahun pertanda waktu yang terlalu tergesa untuk berlari.

Aku selalu suka Desember, Desember dengan segala ceritanya, Desember dengan aroma hujannya, dan Desember dengan sejuta pengharapan baru untuk langkah selanjutnya.
Selamat datang, Desemberku.... 

“.... karena aku, selalu suka sehabis hujan di bulan Desember.”
(Efek Rumah Kaca-Desember-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar