Rabu, 22 Januari 2014

...masih bertengger dengan manisnya di sana.

Setaun ini adalah 2 semester kuliah full 24 SKS, terdiri dari 6 SKS Skripsi, 9 SKS Hakikat Keikhlasan, dan 9 SKS Telaah Kesabaran. Rasa-rasanya semua itu tak akan terjalani dengan maksimal tanpa 24 jam mata kuliah non SKS: Manajemen Kelapangan.

Oke, sampai di detik ini, H-19 pendaftaran terakhir wisuda periode ini, ke empat “mata kuliah” itu masih harus kulahap. Ibarat lap terakkhir di sebuah balapan, kali ini rasanya gas pol sudah kukerahkan. Capek, mencoba bertahan dengan sisa-sisa bahan bakar terakhir.

Lebih dari 300 hari hidup dengan tekanan (diakui atau tidak diakui) sebenarnya sudah menjadi candu yang tak nikmat, tapi menjadi rutinitas yang semakin terlihat wajar dari hari ke hari. Keluhan, rutukan, cacian sepertinya tak akan ada guna lagi. Percuma, hanya memperumit apa yang sudah rumit, memperkeruh apa yang sudah keruh.

Tak mudah memang mengganggap santai dan bersikap “seolah baik-baik saja” di tengah kesemrawutan dan hiruk pikuk pikiran-pikiran buruk di sekitarku. Bagaimana kalau ini? Bagaimana kalau itu? Lantas, apa bisa aku begitu? Kenapa dia begitu? Bagaimana bisa ini begini? Ahhhh!!!! Dan dengan segala “bagaimana-bagaimana” yang lain, aku muak. Dengan sisa-sisa kekuatan ini saja aku sudah mati-matian berdiri agar tak hancur, bagaimana bisa mereka membiaskan “aura-aura” negatifnya itu padaku? Tentu saja tak akan kubiarkan.

Umpama ksatria bulan, sudah susah payah kupendarkan cahaya-cahaya sisa matahari musim dingin untuk melindungiku dari gelap, dan mereka, para makhluk planet nebula itu seenaknya saja menebar kabut hitam di sekelilingku. Tidak! Tak bisa seperti itu.

Akhirnya pada suatu titik aku tersadar, aku harus menyingkir sejenak. Menghindari sementara perang emosi penuh kebusukan di sana. Sebentar lah, aku perlu oksigen segar, aku butuh warna baru, butuh suntikan pemahaman-pemahaman baru, agar aku tak ikut-ikutan menjadi zombie kehidupan seperti mereka.

Aku ingin menikmati detik-detik ini dengan lebih bermakna, tak sekedar berlari terburu-buru, membiarkan setiap waktu tercecer tak berarti. Aku ingin menikmati ini dengan senyum tulus, hati lapang, dan pandang terbuka lebar. Aku ingin selamanya memiliki kekuatan sabar itu. Hingga seperti pagi ini, aku hanya menghela napas panjang: tanpa rutukan, tanpa keluhan, menatap pasrah, dan menyapa dalam diam sebentuk berkas dengan map biru yang masih bertengger dengan manisnya di sana, di loker Ibu Dosen yang masih terlampau sibuknya untuk mengurus revisianku.

#H-19 suatu hari yang memperbudak banyak orang di sekitarku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar