Setaun ini adalah
2 semester kuliah full 24 SKS, terdiri dari 6 SKS Skripsi, 9 SKS Hakikat
Keikhlasan, dan 9 SKS Telaah Kesabaran. Rasa-rasanya semua itu tak akan
terjalani dengan maksimal tanpa 24 jam mata kuliah non SKS: Manajemen
Kelapangan.
Oke, sampai di
detik ini, H-19 pendaftaran terakhir wisuda periode ini, ke empat “mata kuliah”
itu masih harus kulahap. Ibarat lap terakkhir di sebuah balapan, kali ini
rasanya gas pol sudah kukerahkan. Capek, mencoba bertahan dengan sisa-sisa
bahan bakar terakhir.
Lebih dari 300
hari hidup dengan tekanan (diakui atau tidak diakui) sebenarnya sudah menjadi
candu yang tak nikmat, tapi menjadi rutinitas yang semakin terlihat wajar dari
hari ke hari. Keluhan, rutukan, cacian sepertinya tak akan ada guna lagi. Percuma,
hanya memperumit apa yang sudah rumit, memperkeruh apa yang sudah keruh.
Tak mudah memang
mengganggap santai dan bersikap “seolah baik-baik saja” di tengah kesemrawutan
dan hiruk pikuk pikiran-pikiran buruk di sekitarku. Bagaimana kalau ini?
Bagaimana kalau itu? Lantas, apa bisa aku begitu? Kenapa dia begitu? Bagaimana
bisa ini begini? Ahhhh!!!! Dan dengan segala “bagaimana-bagaimana” yang lain,
aku muak. Dengan sisa-sisa kekuatan ini saja aku sudah mati-matian berdiri agar
tak hancur, bagaimana bisa mereka membiaskan “aura-aura” negatifnya itu padaku?
Tentu saja tak akan kubiarkan.
Umpama ksatria
bulan, sudah susah payah kupendarkan cahaya-cahaya sisa matahari musim dingin
untuk melindungiku dari gelap, dan mereka, para makhluk planet nebula itu seenaknya
saja menebar kabut hitam di sekelilingku. Tidak! Tak bisa seperti itu.
Akhirnya pada
suatu titik aku tersadar, aku harus menyingkir sejenak. Menghindari sementara
perang emosi penuh kebusukan di sana. Sebentar lah, aku perlu oksigen segar,
aku butuh warna baru, butuh suntikan pemahaman-pemahaman baru, agar aku tak
ikut-ikutan menjadi zombie kehidupan seperti mereka.
Aku ingin
menikmati detik-detik ini dengan lebih bermakna, tak sekedar berlari
terburu-buru, membiarkan setiap waktu tercecer tak berarti. Aku ingin menikmati
ini dengan senyum tulus, hati lapang, dan pandang terbuka lebar. Aku ingin
selamanya memiliki kekuatan sabar itu. Hingga seperti pagi ini, aku hanya
menghela napas panjang: tanpa rutukan, tanpa keluhan, menatap pasrah, dan
menyapa dalam diam sebentuk berkas dengan map biru yang masih bertengger dengan
manisnya di sana, di loker Ibu Dosen yang masih terlampau sibuknya untuk mengurus
revisianku.
#H-19 suatu hari
yang memperbudak banyak orang di sekitarku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar