Kalau ini cinta anak SD, maka aku
cukup menuliskan namanya pada tembok sekolah. Disertai gambar hati dipanah,
tersanding namaku dan namanya. Beserta puluhan nama lain yang tertulis di sana.
Tak peduli ketika namanya bahkan tertulis pada pasangan lainnya. Aduhai,
cukuplah begitu.
Kalau ini cinta anak ingusan,
maka cukup kutulis namanya dalam salah satu kertas undian berbentuk origami.
Hap,hap,hap, origami empat kotak mirip mulut katak itu bergerak sampai lagu
berhenti, lipatan dibuka, keluarlah namanya, berarti kami berjodoh katanya.
Sungguh, girangnya hati tak terbayang.
Jika ini cinta anak SMP, maka
cukuplah kutuliskan ratusan namanya dalam buku harian. Kutitipkan salam untuk
‘someone spesial’ pada salah satu siaran radio lokal, disertai lagu favoritnya,
mengalunlah irama sendu dalam malam yang syahdu. Berharap perasaan itu sampai
padanya yang jangan-jangan mendengar lagu itu pun tidak.
Jika ini cinta monyet, maka hanya
lembar kertas ulangan yang dikoreksi olehnya bisa menjadi benda yang berharga
luar biasa. Bola basket bekas sentuhan tangannya saja bisa membuat hati
berdegup riang. Apalagi jika lirikannya tak sengaja tertangkap sudut mata,
serasa berhenti sedetik detak jantung yang ada. Alamak, indahnya cinta si
‘monyet’ ini.
Kalau ini cinta anak SMA, maka
berpuluh-puluh cerita tertuang pada sahabat setia. Bahkan sekedar berpapasan di
kantin saja bisa menjadi headline news sepanjang minggu. Jangan ditanya
seberapa muak sesungguhnya si sahabat setia. Sampai hapal di luar kepala setiap
detail kisah yang sesungguhnya bukan miliknya.
Kalau ini cinta anak remaja, maka
tak jadi masalah menguntitnya. Menunggu sepanjang istirahat di perpustakaan demi
melihatnya membaca majalah bola. Atau sekedar mengintip biodatanya di daftar
presensi kelas. Dan sungguh, bangga benar bisa tahu nama bapak ibunya. Semacam
prestasi besar melebihi juara piala dunia.
Jika ini cinta anak kuliahan,
maka akan sedikit lebih rumit ceritanya. Keluyuran di fakultasnya sudah tak
jadi hal mengherankan, sesering aku sengaja melintas di depan tempat kosnya.
Bukan rahasia lagi jika mencermati timelinenya jadi hobi baru yang amat mengasyikkan.
Bahkan sengaja mengatur jadwal kuliah umum agar bisa sekelas dengannya pun
pernah kulakukan. Hei, maka jangan heran jika bahkan nama panjang teman
sekamarnya aku hapal di luar kepala. Apalagi cuma sekedar IPK atau rumah makan
favoritnya.
Sayang ini bukan sekedar cinta
monyet anak ingusan, atau cinta kepalang tanggung ala anak kuliahan. Perasaan
ini (bahkan aku ragu menyebutnya sebagai ‘cinta’) ‘hanya’ sebuah perasaan
dewasa. Ragu dan yakin dalam satu waktu, sama halnya dengan berharap dan
melepaskan pada waktu yang lainnya.
Maka coba tebak apa yang
kulakukan? Langsung kupencet satu nomor sambungan pribadi ke Tuhan. Mencoba
bertanya, bilakah perasaan ini apa namanya? Dan seperti biasa, jawaban Tuhan
tak selalu langsung bisa kuartikan. Sampai nanti kupahami jawabannya, biarlah
ini jadi rahasia dulu saja. Ah, tak lucu jika sudah kukabarkan kesana kemari
ternyata bukan namanya yang tercetak di undangan biru bersanding denganku. Maka
biarlah seperti ini. Karena kau tahu, Kawan, tak ada yang benar-benar bisa
memastikan akan berakhir macam apa perasaan ‘super dewasa’ seperti ini.
Titipkan pada Maha Pemilik Skenarionya saja ya . . . Apapun itu, semoga
berakhir indah. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar