Selasa, 07 Maret 2017

CERITA BAPAK DAN SI EMPRIT KAJI


Hari itu sebuah pagi yang menyenangkan di akhir bulan Juni. Sinar matahari yang hangat menyapa setiap sudut yang ada. Bahkan aku pun tak luput darinya, kendati sudah menepi di bangku pojok selasar rumah sakit ini. Seolah matahari tak rela jika kuhabiskan pagi ini dengan hati yang dingin.  
Aku duduk meluruskan kakiku, menghela napas panjang kemudian menatap kembali taman kecil dihadapanku yang mulai riuh oleh burung kecil yang saling bercanda.
" Bosan? " Bapak yang duduk disampingku bertanya.
Aku hanya mengulum senyum kecil. Dua jam menunggu tentu bukan waktu yang singkat. Apalagi sesuatu yang kutunggu ini bukan suatu hal yang bisa dikatakan menyenangkan.
" Kau lihat nak burung-burung kecil itu? Ah, mengherankan ya, di kota ini mereka ternyata masih ada. Bapak kira hanya di desa saja. Mereka hebat bisa bertahan di antara hiruk pikuk kota"
Alih-alih berkomentar aku hanya mengangguk saja. Seperti kebiasaanku jika bapak sedang bercerita.
" Nah burung yang kepalanya putih itu namanya emprit kaji. Dulu ketika bapak kecil jumlah mereka masih banyak nak. Bapak biasa berburu sarang mereka bersama teman-teman. Luar biasa, ternyata sekarang bapak bisa melihatnya lagi justru disini "
Aku mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk bapak. Seekor burung kecil berkepala putih sedang asyik mematuki tanah. Dia memang berbeda sendiri di antara teman-temannya. Tapi dia tampak tak terganggu. Atau mungkin dia tak sadar bahwa dia berbeda? Tiba-tiba aku merasa tersentak. Ya, emprit kaji itu memang berbeda. Tapi pasti ada alasan kan kenapa Allah ciptakan dia berbeda?
Lalu bapak kembali bercerita, tentang masa kecilnya, tentang cita-citanya dulu, tentang silsilah keluarga, tentang kisah remajanya, tentang cerita waktu aku dan adik masih kecil dulu, tentang segalanya. Kali ini aku lebih memusatkan perhatian. Menyimak dengan sungguh - sungguh setiap erkataannya. Sesekali mengomentari dan tergelak demi mendengar hal jenaka (yang sebenarnya pernah kudengar sebelumnya). Menatap wajah bapak yang sangat bersemangat bercerita, sambil mengamati keriputnya yang semakin bertambah. Tentu saja bapak tak tahu saat itu aku sebenarnya sedang mengalihkan perhatian dan mati-matian menahan air mata yang ingin menetes sedari tadi.
Aku tahu bapak tak kalah risau. Aku tahu beliau juga cemas. Tapi demi aku, si anak perempuannya yang sedang galau menunggu hasil laboratorium patologi, beliau tidak boleh terlihat lemah. Bapak memang selalu begitu. Berusaha terlihat kuat di depan kami. Karena bapak memang harus seperti itu. Agar kami selalu punya kekuatan lebih untuk menjalani setiap masalah kami. Maka tiga bulan sebelumnya ketika dokter spesialis menyarankan aku harus menjalani pemeriksaan kanker, bapak hanya menatapku tajam dan berkata "Lakukanlah, selama bapak sanggup bapak akan antar kamu kemanapun kamu berobat".

Alhamdulillah pemeriksaan laboratorium menunjukan hasil negatif. Walau sesudah itu aku tetap harus menjalani operasi pengangkatan benjolan di leher, tapi aku bersyukur itu bukan kanker. Sampai sekarang jika kulihat emprit kaji hinggap di depan rumahku, maka yang teringat adalah obrolan sendu bersama bapak di selasar sebuah rumah sakit di kota sana. Suatu pagi ketika aku sempat dilanda haru dan menyangka itu adalah obrolan terakhirku bersama bapak. Alhamdulillah Allah masih meminjamiku kesempatan sampai hari ini. Ternyata dengan itu Allah memberikan aku sebuah pelajaran tentang berharganya setiap detik waktu yang aku miliki. Hingga aku bisa lebih menghargai setiap hal yang aku dapatkan hingga saat ini.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar