Hari itu sebuah pagi yang
menyenangkan di akhir bulan Juni. Sinar matahari yang hangat menyapa setiap
sudut yang ada. Bahkan aku pun tak luput darinya, kendati sudah menepi di
bangku pojok selasar rumah sakit ini. Seolah matahari tak rela jika kuhabiskan pagi
ini dengan hati yang dingin.
Aku duduk meluruskan kakiku,
menghela napas panjang kemudian menatap kembali taman kecil dihadapanku yang
mulai riuh oleh burung kecil yang saling bercanda.
" Bosan? " Bapak yang
duduk disampingku bertanya.
Aku hanya mengulum senyum kecil.
Dua jam menunggu tentu bukan waktu yang singkat. Apalagi sesuatu yang kutunggu
ini bukan suatu hal yang bisa dikatakan menyenangkan.
" Kau lihat nak
burung-burung kecil itu? Ah, mengherankan ya, di kota ini mereka ternyata masih
ada. Bapak kira hanya di desa saja. Mereka hebat bisa bertahan di antara hiruk
pikuk kota"
Alih-alih berkomentar aku hanya
mengangguk saja. Seperti kebiasaanku jika bapak sedang bercerita.
" Nah burung yang kepalanya
putih itu namanya emprit kaji. Dulu ketika bapak kecil jumlah mereka masih
banyak nak. Bapak biasa berburu sarang mereka bersama teman-teman. Luar biasa,
ternyata sekarang bapak bisa melihatnya lagi justru disini "
Aku mengalihkan pandangan ke arah
yang ditunjuk bapak. Seekor burung kecil berkepala putih sedang asyik mematuki
tanah. Dia memang berbeda sendiri di antara teman-temannya. Tapi dia tampak tak
terganggu. Atau mungkin dia tak sadar bahwa dia berbeda? Tiba-tiba aku merasa
tersentak. Ya, emprit kaji itu memang berbeda. Tapi pasti ada alasan kan kenapa
Allah ciptakan dia berbeda?
Lalu bapak kembali bercerita,
tentang masa kecilnya, tentang cita-citanya dulu, tentang silsilah keluarga,
tentang kisah remajanya, tentang cerita waktu aku dan adik masih kecil dulu,
tentang segalanya. Kali ini aku lebih memusatkan perhatian. Menyimak dengan
sungguh - sungguh setiap erkataannya. Sesekali mengomentari dan tergelak demi
mendengar hal jenaka (yang sebenarnya pernah kudengar sebelumnya). Menatap
wajah bapak yang sangat bersemangat bercerita, sambil mengamati keriputnya yang
semakin bertambah. Tentu saja bapak tak tahu saat itu aku sebenarnya sedang mengalihkan
perhatian dan mati-matian menahan air mata yang ingin menetes sedari tadi.
Aku tahu bapak tak kalah risau.
Aku tahu beliau juga cemas. Tapi demi aku, si anak perempuannya yang sedang
galau menunggu hasil laboratorium patologi, beliau tidak boleh terlihat lemah.
Bapak memang selalu begitu. Berusaha terlihat kuat di depan kami. Karena bapak
memang harus seperti itu. Agar kami selalu punya kekuatan lebih untuk menjalani
setiap masalah kami. Maka tiga bulan sebelumnya ketika dokter spesialis
menyarankan aku harus menjalani pemeriksaan kanker, bapak hanya menatapku tajam
dan berkata "Lakukanlah, selama bapak sanggup bapak akan antar kamu
kemanapun kamu berobat".
Alhamdulillah pemeriksaan
laboratorium menunjukan hasil negatif. Walau sesudah itu aku tetap harus
menjalani operasi pengangkatan benjolan di leher, tapi aku bersyukur itu bukan
kanker. Sampai sekarang jika kulihat emprit kaji hinggap di depan rumahku, maka
yang teringat adalah obrolan sendu bersama bapak di selasar sebuah rumah sakit
di kota sana. Suatu pagi ketika aku sempat dilanda haru dan menyangka itu
adalah obrolan terakhirku bersama bapak. Alhamdulillah Allah masih meminjamiku kesempatan
sampai hari ini. Ternyata dengan itu Allah memberikan aku sebuah pelajaran
tentang berharganya setiap detik waktu yang aku miliki. Hingga aku bisa lebih
menghargai setiap hal yang aku dapatkan hingga saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar