Kadangkala aku kasihan pada langit
Di tengah megahnya mega-mega berarak riang
Atau saput-saput halus lukisan Tuhan,
dia terabaikan...
hanya sesekali tiupan angin yang membelainya perlahan
lembut mengetuk mengelus nestapanya.
Kasihan juga si senja,
Dalam pukau gemilau jingga
Dia hanya tersenyum malu-malu tanpa daya
Melirik jenaka, tanpa seorang pun yang sudi singgah menatap sejenak
Mungkin hanya debur ombak teman pilunya
Mengalun, mengisap dukanya
Lebih kasihan aku kepada sang bintang
Amboi, lihatlah dia berkedip bermain mata di atas sana
Sayang kilaunya terhempas karena seribu lentera
Jadilah bintang berteman kelam
Tenggelam dalam gerhana semu ciptaan sang nara
Tetapi tahukah, ada yang lebih, lebih patut untuk dikasihani
Yaitu mereka yang telalu sibuk menatap angan kosong saja
Yang tak sempat mengecap dan mendengarkan bisikan sang waktu
Mereka yang berlari tanpa tahu arah tujuannya
Tak sempat menghargai langit, menatap senja dan bicara pada bintang
Ah, kasihan sekali...
Malang nian mereka, para budak kehidupan itu!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar