Matahari pukul 2 siang masih menatap dengan cukup panasnya, menemani
perjalanan siang menjelang sore saya dalam hiruk pikuk bus ekonomi jurusan
Semarang-Purwokerto. Saya bersandar malas, menatap keramaian terminal tempat
bus singgah. Hembusan angin sepoi-sepoi diiringi irama jazz dari music player saya cukup membuat terbuai
untuk memejamkan mata sejenak. Lamunan saya terpecah saat bus mulai berjalan.
Yap!! Saatnya melanjutkan perjalanan dan menikmati perjalanan lagi.
Sesaat sebelum bus berjalan, seorang bapak tua masuk ke dalamnya. Hups!! Si
bapak tua mengedarkan pandangannya, bersandar pada sebuah bangku, mengatur
nafas tersengal-sengalnya, sebelum mengambil sebuah benda dari saku
belakangnya. Sebuah seruling. Ya, hanya seruling bambu coklat yang agaknya usianya
sudah tak muda lagi.
Ah, bapak yang ini rupanya. Saya sudah cukup paham dengan beliau. Empat
tahun pulang pergi Semarang-Wonosobo telah membuat saya cukup hapal dengan
artis-artis jalanan penguasa trayek ini. Bapak tua ini termasuk favorit saya.
Tak sampai satu menit kemudian irama seruling mengiringi merdunya langgam jawa
menyihir seisi bus, menggantikan alunan jazzy
di telinga saya. Seruling merdu, mengeluarkan irama melengking yang menyayat
hati. Sepotong lirik yang bisa saya pahami menceritakan tentang betapa hidup di
dunia itu hanya sementara, jadi seberapa hebat dan berkilaunya, ataupun
sedemikian sulitnya, semua akan sirna. Suara merdu sang Bapak dan lengkingan
serulingnya seakan mewakili perasaan terdalam dari si empunya.
Konon, dari cerita yang tak sengaja saya dengar dari bapak itu sendiri,
dulu beliau termasuk penyanyi kehormatan yang sering diundang pentas di
keraton. Beliau dengan teman-temannya temasuk grup elit yang sering
mondar-mandir kediaman bangsawan-bangsawan di Solo dan sekitarnya. Hanya saja,
perkembangan zaman rupanya terlalu kejam menggerus nilai-nilai budaya lokal,
hingga sang Bapak dan teman-temannya harus tersingkir. Putaran nasib menyeret
bapak tua kepada kehidupan jalanan demi menyambung kebutuhan perutnya.
Tak terasa satu lagu selesai, Bapak tua dengan senyum dan mata lelahnya
mengedarkan sebuah kantong plastik lusuh bekas permen ke segenap penumpang.
Sayangnya rejeki bapak tersebut tampaknya tak seberapa hari ini. Mungkin para
penumpang juga sudah jengah dengan banyaknya pengamen yang sedari tadi
bergantian “menodongkan” tangan. Alhasil, bapak tua pada urutan terakhir ini
hanya dapat bagian gerutuan atau senyuman kecut saja. Sedikit kekecewaan
terlukis sebentar di wajah bapak itu, sebelum langsung terganti senyum tulus
diiringi gumaman “Alhamdulillah”, Subhanallah..
Di perempatan lampu merah bus berhenti, “Matur nuwun, mas kenek”, kata sang
Bapak sambil turun dengan sigap. Pandangan mata saya tak lepas dari sosok bapak
tua. Dia menyeberang jalan, menghentikan langkahnya di grup kuda lumping
jalanan, dan mengeluarkan sebatang rokok serta uang kecil untuk para seniman
jalanan tersebut. Pemandangan yang cukup membuat hati saya tersentak. Ah, si
bapak tua, dalam keterbatasannya dia masih mau untuk berbagi. Sebuah realita
yang cukup menyentil perasaan, mengingat banyaknya mobil-mobil kinclong yang
kadang pemiliknya terlanjur sungkan untuk merelakan sedikit recehnya untuk para
seniman jalanan tadi. Bapak tua dan serulingnya, kembali mengingatkan saya,
menampar dengan halusnya tentang hakikat berbagi.
Berbagi itu sederhana. Sekecil apapun itu, bahagia yang dibagi akan selalu
punya makna. Sesepele apapun itu, tetaplah perlu dihargai. Hei, bukankah tangan
di atas itu lebih baik dari tangan di bawah? Ingat itu, kawan!!!
Semoga Allah senantiasa memudahkan jalanmu, wahai bapak tua dengan senyum
sederhana dan tatap teduh di balik serulingnya...
#Ambarawa,
Agustus 2013 , dalam perjalanan menuju kota tercinta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar