Senin, 02 September 2013

Seorang Bapak Tua dan Serulingnya



Matahari pukul 2 siang masih menatap dengan cukup panasnya, menemani perjalanan siang menjelang sore saya dalam hiruk pikuk bus ekonomi jurusan Semarang-Purwokerto. Saya bersandar malas, menatap keramaian terminal tempat bus singgah. Hembusan angin sepoi-sepoi diiringi irama jazz dari music player saya cukup membuat terbuai untuk memejamkan mata sejenak. Lamunan saya terpecah saat bus mulai berjalan. Yap!! Saatnya melanjutkan perjalanan dan menikmati perjalanan lagi.
Sesaat sebelum bus berjalan, seorang bapak tua masuk ke dalamnya. Hups!! Si bapak tua mengedarkan pandangannya, bersandar pada sebuah bangku, mengatur nafas tersengal-sengalnya, sebelum mengambil sebuah benda dari saku belakangnya. Sebuah seruling. Ya, hanya seruling bambu coklat yang agaknya usianya sudah tak muda lagi.
Ah, bapak yang ini rupanya. Saya sudah cukup paham dengan beliau. Empat tahun pulang pergi Semarang-Wonosobo telah membuat saya cukup hapal dengan artis-artis jalanan penguasa trayek ini. Bapak tua ini termasuk favorit saya. Tak sampai satu menit kemudian irama seruling mengiringi merdunya langgam jawa menyihir seisi bus, menggantikan alunan jazzy di telinga saya. Seruling merdu, mengeluarkan irama melengking yang menyayat hati. Sepotong lirik yang bisa saya pahami menceritakan tentang betapa hidup di dunia itu hanya sementara, jadi seberapa hebat dan berkilaunya, ataupun sedemikian sulitnya, semua akan sirna. Suara merdu sang Bapak dan lengkingan serulingnya seakan mewakili perasaan terdalam dari si empunya.
Konon, dari cerita yang tak sengaja saya dengar dari bapak itu sendiri, dulu beliau termasuk penyanyi kehormatan yang sering diundang pentas di keraton. Beliau dengan teman-temannya temasuk grup elit yang sering mondar-mandir kediaman bangsawan-bangsawan di Solo dan sekitarnya. Hanya saja, perkembangan zaman rupanya terlalu kejam menggerus nilai-nilai budaya lokal, hingga sang Bapak dan teman-temannya harus tersingkir. Putaran nasib menyeret bapak tua kepada kehidupan jalanan demi menyambung kebutuhan perutnya.
Tak terasa satu lagu selesai, Bapak tua dengan senyum dan mata lelahnya mengedarkan sebuah kantong plastik lusuh bekas permen ke segenap penumpang. Sayangnya rejeki bapak tersebut tampaknya tak seberapa hari ini. Mungkin para penumpang juga sudah jengah dengan banyaknya pengamen yang sedari tadi bergantian “menodongkan” tangan. Alhasil, bapak tua pada urutan terakhir ini hanya dapat bagian gerutuan atau senyuman kecut saja. Sedikit kekecewaan terlukis sebentar di wajah bapak itu, sebelum langsung terganti senyum tulus diiringi gumaman “Alhamdulillah”, Subhanallah..
Di perempatan lampu merah bus berhenti, “Matur nuwun, mas kenek”, kata sang Bapak sambil turun dengan sigap. Pandangan mata saya tak lepas dari sosok bapak tua. Dia menyeberang jalan, menghentikan langkahnya di grup kuda lumping jalanan, dan mengeluarkan sebatang rokok serta uang kecil untuk para seniman jalanan tersebut. Pemandangan yang cukup membuat hati saya tersentak. Ah, si bapak tua, dalam keterbatasannya dia masih mau untuk berbagi. Sebuah realita yang cukup menyentil perasaan, mengingat banyaknya mobil-mobil kinclong yang kadang pemiliknya terlanjur sungkan untuk merelakan sedikit recehnya untuk para seniman jalanan tadi. Bapak tua dan serulingnya, kembali mengingatkan saya, menampar dengan halusnya tentang hakikat berbagi.
Berbagi itu sederhana. Sekecil apapun itu, bahagia yang dibagi akan selalu punya makna. Sesepele apapun itu, tetaplah perlu dihargai. Hei, bukankah tangan di atas itu lebih baik dari tangan di bawah? Ingat itu, kawan!!!
Semoga Allah senantiasa memudahkan jalanmu, wahai bapak tua dengan senyum sederhana dan tatap teduh di balik serulingnya...

#Ambarawa, Agustus 2013 , dalam perjalanan menuju kota tercinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar